Gue bakal nulis postingan kali ini pake bahasa Indonesia, karena gue lagi males mengorientasikan pikiran gue ke bahasa Inggris. hehehe.
Mungkin udah banyak yang tahu atau udah nonton The Butterfly Effect, film sci-fi thriller yang dibintangi Ashton Kutcher. Singkat cerita, waktu gue ke Korea (ehem) Januari lalu, gue memanfaatkan internet super cepat di negara itu buat download 10 film dalam 1 jam (bayangkan! 10 film dalam 1 jam!). Salah satu yang gue download adalah trilogi The Butterfly Effect, film yang udah cukup lama bikin gue penasaran.
Well, it's a little too late to watch the movie. Bahkan gue baru nonton filmnya di bulan April ini, karena gue baru sempet dan baru bisa memberanikan diri. Gue bukan orang yang penakut, malahan gue suka banget sama thriller, tapi tetep aja nonton thriller itu butuh kesiapan mental, karena lo ga tau saat lo selesai nonton, adegan-adegan dalam plot film itu bakal menghantui lo sampai berapa lama. Itulah yang gue rasakan setelah gue nonton Hide and Seek, The Jacket, dan Mr. Nobody.
Waktu itu gue lagi labil-labilnya, seperti yang bisa dilihat di postingan gue sebelumnya. Gue stress karena banyak tugas dan kerjaan dan ngerasa ga maksimal. Gue bangun tengah malam, mual, mau muntah, mau nangis. Gue buka laptop dan gue tau itulah saatnya gue harus nonton The Butterfly Effect *dramatis*.
Awal film ini udah horor banget. Waktu itu jam 11 malem dan gue sendirian di kosan. Tapi gue tetep struggle dan gue survive hahaha. Ceritanya keren banget, harus gue akui. Banyak banget twist yang surprising dan film ini ga ngasi lo istirahat pikiran sama sekali. Gue bahkan sempet ga sadar kalo yang lagi gue tonton itu Ashton Kutcher. Jalan ceritanya dan penampilan Ashton bikin gue mengasosiasikan film ini sama Mr. Nobody yang ada Jared Leto-nya. Kalau dua film ini dibandingin, mungkin gue akan bilang Mr. Nobody lebih absurd, sedangkan The Butterfly Effect lebih ironis.
Setelah gue selesai nonton filmnya, gue langsung menghabiskan 1 jam untuk mengeksplor iMDB, walaupun besok paginya gue ada kelas jam 8 hahaha. Dan gue amazed banget waktu tahu The Butterfly Effect itu dari original screenplay, karena ekspektasi gue terhadap plot yang cukup complicated yang banyak time-travelling nya adalah film ini adaptasi novel, kayak The Time Traveller's Wife (ini salah satu sci-fi drama yang bikin gue nangis mewek). Ternyata The Butterfly Effect murni ditulis sebagai screenplay.
Dari semua quotes bagus yang ada di Butterfly Effect, satu yang paling nempel di kepala adalah "You Can't Play God". Ya, lo emang gak bisa seenaknya ngelawan takdir kayak yang Ashton Kutcher berusaha lakukan di film ini. Tapi at least he tried and he found the best solution.
![]() |
| Evan and Kayleigh |
By the way, gara2 film ini gue jadi pengen nonton ulang The Jacket yang notabene adalah time-travelling thriller juga. Dan semua film yang gue sebutin di atas recommended banget.
Sekarang di laptop gue masih ada dua sekuel The Butterfly Effect, tapi gue ga akan nonton dulu dalam waktu dekat. Karena seperti yang gue bilang, setelah nonton film yang isinya mind-games, gue butuh waktu beberapa lama untuk ngilangin bekas-bekas scene yang nempel di kepala gue serta ironi yang gue rasakan #eaaa.
Finally, see you on another butterfly effect post.
It has been said something as small as the flutter of a butterfly's wing can ultimately cause a typhoon halfway around the world. - Chaos Theory



