my authentic self, on life and its highlights

Saturday, June 27, 2015

Cara Menjadi Bermakna

Everybody wants to matter.

Gak bisa dipungkiri kalau setiap orang ingin punya makna. Hanya saja, makna dari “makna” itu sendiri berbeda buat tiap orang.

Ada yang kalau berhasil membangun billion-dollar business, baru akan merasa kalau dirinya bermakna. Ada yang perlu mengajar anak-anak sekolah di pelosok daerah, baru menemukan makna. Ada yang jadi ibu rumah tangga, dan berhasil bikin anaknya jadi seseorang, merasa bermakna. Ada yang terkenal dan dipuja-puja penggemar, baru bisa merasa bermakna.

Dari kecil kita selalu mencari makna. Belajar rajin di kelas, supaya setidaknya kita punya makna: “I’m a smart student”. Kita berteman baik dengan orang, itu juga dalam proses menemukan makna. “Gue sahabatan sama si A. Gue bermakna bagi dia”. Parenting juga adalah suatu proses yang menghasilkan makna. “Saya orangtuanya anak saya. Saya punya makna bagi dia”.

Orang-orang sering ngomong “Live life to the fullest”. Tapi, jarang yang benar-benar mengerti, living life to the fullest itu bentuk konkretnya seperti apa? Tipikalnya living life to the fullest itu digambarkan dengan orang-orang yang sering traveling, opening up to experiences, gak takut mencicipi budaya baru. Tapi apa iya hidup cuma tentang keliling dunia tanpa tujuan?

Menurut saya pribadi, hidup yang kata orang lived to the fullest itu pada hakikatnya hanya tentang dua hal:

  1. Menemukan apa yang paling membuat kita merasa bermakna
  2. Mendedikasikan hidup kita dengan beraktivitas atau bertindak atas makna tersebut

***

Hari Kamis lalu, saya datang ke sebuah acara diskusi tentang Open Data. Sebenarnya saya hadir karena disuruh atasan saya yang kebetulan berhalangan. Acaranya di World Bank. Ya, namanya saja World Bank. Keren. Intelek. Tanpa melakukan desk research dulu, apa sebenarnya isi acaranya (saya tidak tahu apa-apa tentang open data), saya langsung mengiyakan. Sekadar ingin melakukan “kewajiban sosial” abad ini: check-in di Path.

Waktu saya datang, saya bertemu seorang praktisi Open Data yang saya kenal. Kebetulan beliau pernah jadi narasumber untuk riset saya terkait Bandung Teknopolis. Ya, tapi kami hanya sekadar kenal-kenal gitu saja. Saya menyapa, lalu saya mengambil tempat duduk di samping beliau.

Tidak lama kemudian, orang-orang mulai ramai berdatangan. Dan kenalan saya ini menyapa hampir setiap orang yang masuk. Kemudian, mereka semua duduk di sekitar kenalan saya (otomatis duduk di sekitar saya). Saat itu posisi saya benar-benar tidak nyaman, karena saya merasa duduknya saya di situ menghambat interaksi langsung para anggota klub open data ini (ya, ternyata mereka semua tergabung dalam open data club. That kind of club exists, though).

Keseluruhan acara pun berjalan dengan saya yang hanya diam saja, mendengarkan panelis-panelis yang bicara tentang open data, sambil sesekali mencatat hal yang menarik, supaya saya bisa update ke atasan saya jika ditanya. Orang-orang open data club ini terus berinteraksi hangat sepanjang acara, dengan banyak inside joke yang hanya dimengerti oleh mereka (pasti banyak yang pernah mengalami awkward moment seperti ini).

Dari situ, saya menarik dua kesimpulan. Pertama, mereka adalah sekelompok orang, yang tergabung ke dalam suatu circle, karena mereka memiliki expertise yang sama. Kedua, saya pun sadar, bahwa expertise adalah salah satu bentuk dari makna. Setidaknya, dari yang terlihat, orang-orang ini telah menemukan makna, yaitu keahlian mereka sebagai data scientist.

Saat sudah menemukan makna tersebut dan melakukan yang no. 2, yaitu mendedikasikan diri atas makna tersebut, mereka pun menemukan orang-orang lain yang menghargai dan memahami makna yang sama, hingga membentuk suatu circle yang sulit ditembus oleh orang-orang lain yang tidak menghargai atau memahami makna tersebut (seperti saya yang sama sekali tidak mengerti tentang--dan juga tidak tertarik dengan--open data). Ya, bagi orang-orang di acara diskusi ini, circle tersebut memiliki bentuk formal sebagai sebuah entitas bernama Open Data Club. Dalam kenyataannya, circle tersebut tidak harus selalu memiliki bentuk formal. It is often just a friendship circle.

***

Dari cerita tentang Open Data Club dan penjelasan saya sebelumnya, apa poinnya? Poinnya adalah, hidup itu terlalu singkat kalau kita hanya bermakna sendiri. Iya, kita sudah menyelesaikan PR kita yang no. 1, menemukan apa yang paling membuat kita merasa bermakna, menulis misalnya kalau bagi saya.

Banyak orang yang lalu lupa melakukan no. 2, yaitu mendedikasikan hidupnya dengan beraktivitas atau bertindak (atau lebih jelasnya, berprofesi) atas makna tersebut. Banyak yang menemukan makna dirinya, tapi lalu tidak jujur pada diri sendiri. Kalau memang manusia ada di potensi yang paling besar, dan di tingkat aktualisasi yang paling tinggi, saat dia sedang mendedikasikan makna dirinya, kenapa tidak dilakukan?

Nah, kemudian, kalau kita sudah menyelesaikan PR no. 1 dan no. 2, ternyata masih ada no. 3, yang baru saya tambahkan ke formula hidup saya saat saya menghadiri acara diskusi open data tersebut.

Find those who share the same meaning, for the sake of multiplying the meanings.

Bingung?

Coba kita ulang lagi. Hidup itu terlalu singkat untuk bermakna sendiri. Dengan menemukan makna, lalu mendedikasikan hidup atas makna tersebut, kemungkinan besar kemudian kita akan bertemu orang-orang yang menghargai dan memahami makna sama. Inilah kesempatan kita untuk bisa melipatgandakan maka diri kita, yaitu dengan bergabung—disengaja atau tidak—ke suatu circle, ke suatu lingkaran makna. Istilah kerennya, dengan berkolaborasi.

Kalau kenalan saya tadi hanyalah satu-satunya data scientist di Indonesia, apa kemudian negara kita bisa mempercepat implementasi open data? Sepertinya tidak. Apakah jika hanya ada satu guru yang bersedia mengajar di pelosok daerah, anak-anak di daerah tersebut akan cepat maju? Saya rasa tidak. Bahkan, mereka yang bermimpi jadi entrepreneur dan memiliki bisnis bernilai miliaran pun rutin mencari inspirasi dari komunitas bisnis. Ibu-ibu zaman sekarang sering pergi ke forum parenting di Internet, sekadar untuk bertanya, “Kalau anak masih suka ngompol, saya mesti ngapain ya?”

Bahkan, makna itu sendiri seringnya baru menjadi “makna” saat sudah dipersepsikan secara komunal (sampai di titik ini saya takut tulisan saya terlalu berputar-berputar). Jadi, jika bisa bermakna bersama, kenapa harus bermakna sendiri? Penulis-penulis zaman Jazz Age saja,--yang sepertinya selalu digambarkan sebagai pribadi yang kesepian dan menyendiri--seperti Hemingway, sering nongkrong di kafe bersama Fitzgerald untuk mendiskusikan buku mereka. We need people who share our meaning.

Everybody wants to matter. Dan satu-satunya cara menjadi matter adalah dengan mengikuti tiga formula di bawah ini:
  1. Menemukan apa yang paling membuat kita merasa bermakna (semakin cepat semakin baik)
  2. Mendedikasikan hidup kita dengan beraktivitas atau bertindak atas makna tersebut (semakin serius semakin baik)
  3. Menemukan orang-orang dengan makna yang sama, lalu saling membantu melipatgandakan makna tersebut (semakin ramai semakin baik)
Semoga beruntung!

A Synthesist by Nature

My photo
22 tahun. Writer and Content Strategist. I cry watching either romcom or gore.