Akhir-akhir ini teman-teman yang aktif mengikuti akun Twitter saya atau rajin melakukan stalking, dapat melihat bahwa saya sedang sering membahas tentang feminisme. Mungkin banyak yang belum tahu arti dari feminisme, walaupun ada sebagian orang (apalagi sahabat-sahabat perempuan saya) yang sangat tahu arti istilah itu dan menjunjung tinggi hal ini sepanjang hidup mereka.
Berdasarkan Wikipedia, feminisme adalah a collection of movements and ideologies aimed at defining, establishing, and defending equal political, economic, and social rights for women. This includes seeking to establish equal opportunities for women in education and employment.
Bicara tentang feminisme, umumnya bisa kita kaitkan dengan emansipasi wanita, persamaan hak, dan kesetaraan gender. Intinya, feminisme adalah sebuah ideologi, belief atau kepercayaan, bahwa perempuan setara dengan laki-laki dan harus mendapatkan hak dan kesempatan yang sama, terutama dalam pendidikan dan lapangan pekerjaan.
Banyak pro dan kontra mengenai feminisme dan seringkali contoh-contoh kasus relevan yang terjadi cukup menggelitik. Saya di sini tidak bicara sebagai orang yang sangat berilmu, tetapi justru meninjau hal ini dari sudut pandang seorang observer, serta sebagai seseorang yang kebetulan cukup dekat dengan banyak perempuan lain yang menjunjung tinggi nilai-nilai feminisme.
Seumur hidup saya, saya dikelilingi oleh sahabat-sahabat perempuan yang umumnya bisa dideskripsikan melalui traits berikut: independen, cerdas, ambisius. Di atas semua itu, sahabat-sahabat saya ini selalu percaya bahwa perempuan tidak seharusnya bergantung kepada laki-laki dan tidak boleh membiarkan laki-laki men-define bagaimana mereka seharusnya bertindak dan berpenampilan. Melalui pergaulan saya yang seperti ini (dan kebetulan Ibu saya juga sedikit banyak memiliki value-value tersebut), saya juga tumbuh dan berkembang menjadi perempuan yang seperti itu.
Kemudian, beberapa bulan terakhir banyak kejadian yang memberikan saya insight baru, bahwa ternyata dunia di sekitar saya belum bisa menerima pandangan ini seutuhnya. Saya sempat terlibat percakapan dengan beberapa sahabat saya (kali ini laki-laki) dan kebanyakan dari mereka menyatakan kira-kira seperti ini, "Nanti istri gue gak boleh kerja. Gue mau tiap gue pulang, istri gue udah nunggu di rumah."
Awalnya, pikiran saya yang naif pun kaget dan langsung menolak pernyataan seperti itu. Di satu sisi, saya percaya bahwa setinggi apapun pendidikan yang ditempuh seorang perempuan, jika pada akhirnya ia tidak berkarir, ilmu yang ia peroleh bisa ia pakai untuk mendidik anak-anaknya, atau untuk mengembangkan masyarakat sekitar. Selama ini, saya juga berpikir bahwa jika saya berumah tangga nanti, saya pada akhirnya akan fokus mendidik anak-anak saya. Namun, yang tidak saya sangka adalah, ternyata di tahun 2013 seperti ini pun, para calon suami (sahabat-sahabat saya masih berusia sekitar 18-20 tahun) tetap punya keinginan untuk melarang calon istrinya bekerja atau membangun karir.
Biasanya jika saya sedang dalam kebingungan saya pun kembali ke pendekatan agama. Ilmu agama saya tidaklah tinggi, tetapi saya tahu pasti kalau menurut Islam, istri memang lebih baik berdiam di rumah, memiliki kewajiban untuk menjaga kehormatan, dan patuh terhadap suami. Jadi, kemudian saya berpikir 'Ya sudahlah, berarti pemikiran sahabat-sahabat saya tidak salah. Mungkin mereka hanya ingin calon istri mereka kelak berada di jalan yang benar.'
Sampai di situ, case closed. Sebenarnya sudah selesai. Sampai sekitar beberapa minggu yang lalu, saya terlibat percakapan lagi dengan seorang teman saya, perempuan. Saya iseng bertanya, "Lo nanti ada rencana S2 gak lulus kuliah?".
Dia pun menjawab "Gak ah. Cewek gitu, kayaknya gak perlu S2. S1 aja cukup."
Saya TIDAK SENANG dengan jawabannya.
Pada dasarnya, saya tahu aspirasi setiap orang berbeda. Ada yang memang senang belajar, senang punya gelar, senang kuliah lagi, jadi memang ingin melanjutkan S2. Ada memang yang tidak senang dengan pendidikan formal, jadi tidak mau lanjut S2. Tapi kata-kata teman saya yang secara langsung mengimplikasikan bahwa "perempuan tidak perlu S2" atau dengan kata lain "saya tidak usah S2 karena saya perempuan" adalah pemikiran yang terlalu, terlalu konservatif dan kaku.
Saya akan menerima jika dia bilang dia tidak ingin S2 karena memang tidak dibutuhkan untuk mencapai career purpose dia, atau jika memang dia tidak punya ambisi karir sedemikian rupa yang mengharuskan dia punya gelar Master. Tetapi jika alasannya adalah gender? Saya percaya itu tidak masuk akal karena bahkan melalui pendekatan agama, menuntut ilmu adalah sesuatu yang baik.
Masih terbingungkan oleh dialog dengan teman saya tadi, saya pun menghubungi seorang sahabat saya (kali ini laki-laki) dan menceritakan kejadian itu. Ternyata, sahabat saya ini memiliki opini yang in line dengan teman perempuan saya yang tadi. Pendapatnya kira-kira seperti ini, "Emang gitu gak sih? Temen gue juga ada, cewek, yang bilang dia mau S1 aja, biar suaminya lebih hebat. Kalo lo S2, suami lo mau setinggi apa lagi? S3?"
Sampai pada titik ini, kalian harus tahu, otak saya semakin bingung karena sepertinya semua yang saya percayai selama saya hidup hilang begitu saja (mohon maaf kalau bahasa saya berlebihan). Memangnya hebat atau tidaknya seseorang, baik laki-laki atau perempuan, hanya ditentukan dari tingkat pendidikannya? Ibu saya lulusan S2, tetapi Ayah saya hanya lulusan S1. Ayah saya tidak pernah melarang Ibu saya kuliah, bahkan jika dia mau lanjut sampai S3. Ayah saya juga tidak pernah melarang Ibu saya bekerja.
Mengapa saya bingung dengan persepsi masyarakat yang saya anggap aneh ini? Pertama, karena Ayah saya tidak merasa terintimidasi oleh tingginya pendidikan Ibu saya. Dia punya kepercayaan diri yang tinggi sebagai laki-laki. Dia tidak lantas merasa Ibu saya lebih hebat hanya karena Ibu saya sudah S2. Kedua, Ibu saya punya kesadaran untuk tetap mendidik anak-anaknya di rumah dan tidak juga lantas merasa dirinya lebih hebat dari Ayah saya. Ibu saya sudah beberapa kali bilang kalau dia ingin sekali lanjut S3, tetapi kemudian dia sadar kalau adik-adik saya masih membutuhkan dia. Keputusan untuk menunda itu adalah keputusannya sendiri.
Semuanya tidak masalah jika memang si perempuan, dalam kasus apapun, tidak punya keinginan untuk mengembangkan diri, contohnya, memang tidak ingin lanjut S2. Tetapi, jika memang punya keinginan, kenapa harus holding back? Kenapa harus menghambat perkembangan diri sendiri hanya agar laki-laki bisa merasa lebih baik dari diri kita? Why do you let go of what you want just to make a man feel good about himself?
Hal yang menjadi penekanan saya di sini adalah bahwa perempuan seringkali membiarkan segala tindak-tanduknya di-define oleh laki-laki. Ya, saya tidak bisa mengesampingkan nature bahwa perempuan haruslah anggun, classy, dan menjaga penampilan. Perempuan secara alamiah memang harus memikat. But, seriously, women, daripada merendahkan diri agar laki-laki menjadi lebih hebat, kenapa tidak membiarkan laki-laki yang tepat menerima segala kehebatan kalian?
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk persuasif, awalnya, tetapi saya akui saya berharap ini bisa membuka mata. Persepsi masyarakat akan kecantikan dan penampilan telah cukup terdistorsi oleh berbagai macam stigma yang dibentuk oleh budaya. Pertanyaannya, apakah kita sebagai perempuan akan membiarkan distorsi itu merambat lebih jauh, lantas menghambat kita dari meraih aktualisasi diri dan maksimalisasi intelektualitas? Saya rasa tidak.