Finally, gue sampai pada suatu kesimpulan bahwa "bodoh" adalah:
Masih aja masuk ke dalam suatu lubang, padahal lo tau kemungkinannya cuma dua: gak bisa keluar dan mati, atau bisa keluar dengan luka-luka berat.
Setiap bulan, sebagai cewek, ada period saat gue merasa emosional dan sensitif banget. Semua orang salah, semua orang ada flaws, semua orang gue katain bego. Terus gue juga sedih, marah, dan menyesali hidup gue. Tiga kata aja deh: I feel pathetic. Nah, definisi bodoh ini muncul setelah malam itu, Rabu malam waktu gue akan mengalami period bulan Agustus dan perasaan gue jatuh ke lowest point yang bikin gue merasa gue orang paling bodoh dan menyedihkan sedunia (oke, gue emang lebay dan dramatis, karena golongan darah gue O).
Malem itu gue pulang ke kosan tengah malem, blom mandi dan cuci muka abis seharian ngurus macem-macem di kampus. Otomatis gerah banget dari ujung kuku kaki sampe kepala. Gue pun mengumpulkan sisa-sisa tenaga gue buat mandi. Ya, lo boleh bayangin gue nangis-nangis di bawah shower, karena mungkin itu yang persisnya gue lakukan. Gue nangis sebelum tidur, dan parahnya gue terbangun jam 4 subuh yang menurut gue itu kepagian banget, dan gue jadinya nangis lagi, karena gue capek.
Sebenarnya hal yang membuat gue paling sedih dan marah sama diri gue sendiri gak bisa gue ceritain di sini, karena itu terlalu private. Intinya, sesuai definisi di atas, gue merasa bodoh karena udah masuk ke lubang, atau analogi lain, terjun ke dalam laut bebas di film Jaws, yang pilihannya cuma 2: antara gue tenggelam dan mati, atau gue selamat dengan kaki udah buntung dimakan hiu.
Nah, seperti yang orang bilang, tidur ngebantu banget buat ngelupain masalah. That's exactly what happened to me. Setelah gue nangis-nangis jam 4 subuh itu, gue dengan susah-payah berusaha tidur lagi dan akhirnya bangun jam 7 pagi. Gue mandi dan akhirnya pikiran gue kembali fresh dan logis. Waktu mandi, gue merekonstruksi ulang definisi "bodoh" yang udah gue buat itu.
Gue tanya lagi ke diri gue sendiri, "Waktu itu lo ngapain masuk ke lubang itu? Ngapain lo berenang di dalem laut yang ada Jaws-nya?". Diri gue sendiri pun menjawab, "Karena di dalem lubang ada harta karun. Karena taring ikan hiu dijual mahal" (oke, ini gue cuma ngasal). Intinya, at the first place, gue menginginkan sesuatu atau malah SANGAT SANGAT menginginkan sesuatu di dalem lubang itu, sampai-sampai gue rela mengambil risikonya. Rule-nya cuma satu : It's all or nothing. Berhasil atau mati. Merdeka atau mati!
Akhirnya, rekonstruksi ulang gue berbuah hasil akhir sebagai berikut:
It's okay kalo lo bodoh, selama apa yang lo kejar itu worth the risk. Selama yang bakal lo dapet (kalo lo berhasil keluar dari lubang atau selamat dari hiu) itu bener-bener sesuatu yang lo inginkan, impikan, cita-citakan. Tanya ke diri lo sendiri, apakah pekerjaan yang lo kejar bener-bener sesuai dengan cita-cita lo, apakah cowok atau cewek yang lo deketin bener-bener bakal bisa buat lo nikahin, apakah uang dalam jumlah besar yang lo keluarkan bener-bener bakal buying you happiness?Kalo jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas adalah IYA, maka saran gue adalah : Take the risk! Masuk aja ke dalam lubang! Berenang aja di laut itu (asal jangan pake bikini)! Like what I said, aturannya cuma satu: It's ALL OR NOTHING.
Maka dari itu, sekarang ini, gue berusaha ngeyakinin ke diri gue setiap waktu "It's worth the risk, isn't it?". Karena semakin lo masuk ke dalam, lo gak bisa keluar dan gak bisa lepas, jadi make sure kalopun lo terperangkap selamanya, pengalaman yang painful itu at least udah ngasi lo sesuatu.
*This post is inspired by @octifanny 's love advice via evening BBM chat :)

0 comments:
Post a Comment